Rabu, 16 September 2015

Berita Tekno Petinggi Google Anggap Apple Music Layanan Kuno

Berita Tekno Petinggi Google Anggap Apple Music Layanan Kuno

sumber berita Petinggi Google Anggap Apple Music Layanan Kuno : http://teknologi.inilah.com/read/detail/2237747/petinggi-google-anggap-apple-music-layanan-kuno

INILAHCOM, San Francisco - Reaksi publik terhadap layanan terbaru Apple Music cukup beragam; ada yang mengaku suka, ada pula yang tidak. Bos Google yang kini mengepalai Alphabet, Eric Schmidt, tampaknya termasuk ke dalam golongan yang tidak.

Dalam sebuah artikel bertajuk Intelligent Machines: Making AI Work in the Real World yang dipublikasikan BBC News, Schmidt mendiskusikan kecerdasan buatan dan penggunaannya di kehidupan nyata.

Pada satu bagian, Schmidt mengindikasi bahwa Apple Music adalah layanan digital yang ketinggalan jaman.

Tidak seperti layanan musik digital lain (Spotify, Pandora, Google Music), Apple Music menyusun daftar putar (playlist) dan menjalankan stasiun radio Beats 1 dengan bantuan tim yang terdiri dari ratusan orang.

Mereka termasuk nama-nama yang tidak asing di industri musik seperti mantan penyiar Radio 1 BBC Zane Lowe, serta selebritis seperti Pharrell Williams dan Dr Dre.

Sementara layanan musik seperti Spotify menggunakan kecerdasan buatan yang mempelajari selera musik pengguna untuk menciptakan daftar putar.

Keputusan Apple untuk tidak menyertakan kecerdasan buatan pada Apple Music dalam pemilihan lagu bagi pendengar dinilai Schmidt sebagai hal yang dilakukan oleh elitis, tidak sama sekali mencerminkan demokrasi.

Meskipun Schmidt tidak menulis nama Apple Music secara langsung, komentarnya terbit beberapa bulan selang peluncuran Apple Music.

“Satu dekade lalu, untuk merilis sebuah layanan musik digital Anda mungkin perlu mempekerjakan sejumlah elit untuk memilih musik terbaik," katanya.

“Kini, Anda lebih baik membangun sebuah sistem pintar yang dapat belajar dari dunia nyata -- apa yang kira-kira disukai pengguna -- dan membantu Anda memprediksi siapa yang akan menjadi Adele di masa depan,"

“Sebagai bonus, itu akan menjadi proses yang jauh lebih sedikit elitis -- jauh lebih demokratis -- memungkinkan semua orang menemukan siapa bintang besar selanjutnya melalui selera kolektif kita semua dan bukan lewat pilihan segelintir individual yang terpilih,” tulis Schmidt. [ikh]

Nuhun for visit Petinggi Google Anggap Apple Music Layanan Kuno

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar